Minggu, 28 Januari 2018
Pembuatan Pupuk Organik di Desa Banteyan Kecamatan Klampis Kabupaten Bangkalan

Hai apa kabar para netizen? Senang sekali anda dapat mengunjungi blog desa kami ini. Kali ini kami akan membagikan kepada anda tentang pembuatan pupuk organik. Disini akan dijelaskan bagaimana cara membuat pupuk organik tersebut dan cara penggunaannya.

Pengertian Pupuk Organik

Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa-sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk organik mengandung banyak bahan organik dari pada kadar haranya. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota (sampah).

Jenis

Pupuk kandang
Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Hewan yang kotorannya sering digunakan untuk pupuk kandang adalah hewan yang bisa dipelihara oleh masyarakat, seperti kotoran kambing, sapi, domba, dan ayam. Selain berbentuk padat, pupuk kandang juga bisa berupa cair yang berasal dari air kencing (urin) hewan. Pupuk kandang mengandung unsur hara makro dan mikro. Pupuk kandang padat banyak mengandung unsur hara makro, seperti fosfor, nitrogen, dan kalium. Unsur hara mikro yang terkandung dalam pupuk kandang di antaranya kalsium, magnesium, belerang, natrium, besi, tembaga, dan molibdenum. Kandungan nitrogen dalam urin hewan ternak tiga kali lebih besar dibandingkan dengan kandungan nitrogen dalam kotoran padat.

Pupuk kandang terdiri dari dua bagian, yaitu:
  1. Pupuk dingin adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan secara perlahan oleh mikroorganisme sehingga tidak menimbulkan panas, contohnya pupuk yang berasal dari kotoran sapi, kerbau, dan babi.
  2. Pupuk panas adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan mikroorganisme secara cepat sehingga menimbulkan panas, contohnya pupuk yang berasal dari kotoran kambing, kuda, dan ayam.

Pupuk kandang bermanfaat untuk menyediakan unsur hara makro dan mikro dan mempunyai daya ikat ion yang tinggi sehingga akan mengefektifkan bahan - bahan anorganik di dalam tanah, termasuk pupuk anorganik. Selain itu, pupuk kandang bisa memperbaiki struktur tanah, sehingga pertumbuhan tanaman bisa optimal. Pupuk kandang yang telah siap diaplikasikan memiliki ciri bersuhu dingin, remah, wujud aslinya tidak tampak, dan baunya telah berkurang. Jika belum memiliki ciri-ciri tersebut, pupuk kandang belum siap digunakan. Penggunaan pupuk yang belum matang akan menghambat pertumbuhan tanaman, bahkan bisa mematikan tanaman. Penggunaan pupuk kandang yang baik adalah dengan cara dibenamkan, sehingga penguapan unsur hara dapat berkurang. Penggunaan pupuk kandang yang berbentuk cair paling baik dilakukan setelah tanaman tumbuh, sehingga unsur hara yang terdapat dalam pupuk kandang cair ini akan cepat diserap oleh tanaman.

Pupuk hijau

Pupuk hijau adalah pupuk organik yang berasal dari tanaman atau berupa sisa panen. Bahan tanaman ini dapat dibenamkan pada waktu masih hijau atau setelah dikomposkan. Sumber pupuk hijau dapat berupa sisa-sisa tanaman (sisa panen) atau tanaman yang ditanam secara khusus sebagai penghasil pupuk hijau, seperti kacang-kacangan dan tanaman paku air (Azolla). Jenis tanaman yang dijadikan sumber pupuk hijau diutamakan dari jenis legume, karena tanaman ini mengandung hara yang relatif tinggi, terutama nitrogen dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya. Tanaman legume juga relatif mudah terdekomposisi sehingga penyediaan haranya menjadi lebih cepat. Pupuk hijau bermanfaat untuk meningkatkan kandungan bahan organik dan unsur hara di dalam tanah, sehingga terjadi perbaikan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah, yang selanjutnya berdampak pada peningkatan produktivitas tanah dan ketahanan tanah terhadap erosi.

Pupuk hijau digunakan dalam:
  1. Penggunaan tanaman pagar, yaitu dengan mengembangkan sistem pertanaman lorong, di mana tanaman pupuk hijau ditanam sebagai tanaman pagar berseling dengan tanaman utama.
  2. Penggunaan tanaman penutup tanah, yaitu dengan mengembangkan tanaman yang ditanam sendiri, pada saat tanah tidak ditanami tanaman utama atau tanaman yang ditanam bersamaan dengan tanaman pokok bila tanaman pokok berupa tanaman tahunan.

Kompos

Kompos merupakan sisa bahan organik yang berasal dari tanaman, hewan, dan limbah organik yang telah mengalami proses dekomposisi atau fermentasi. Jenis tanaman yang sering digunakan untuk kompos di antaranya jerami, sekam padi, tanaman pisang, gulma, sayuran yang busuk, sisa tanaman jagung, dan sabut kelapa. Bahan dari ternak yang sering digunakan untuk kompos di antaranya kotoran ternak, urine, pakan ternak yang terbuang, dan cairan biogas. Tanaman air yang sering digunakan untuk kompos di antaranya ganggang biru, gulma air, eceng gondok, dan Azolla.

Beberapa kegunaan kompos adalah:
  1. Memperbaiki struktur tanah.
  2. Memperkuat daya ikat agregat (zat hara) tanah berpasir.
  3. Meningkatkan daya tahan dan daya serap air.
  4. Memperbaiki drainase dan pori - pori dalam tanah.
  5. Menambah dan mengaktifkan unsur hara.
  6. Kompos digunakan dengan cara menyebarkannya di sekeliling tanaman. Kompos yang layak digunakan adalah yang sudah matang, ditandai dengan menurunnya temperatur kompos (di bawah 400 oC).


Humus

Humus adalah material organik yang berasal dari degradasi ataupun pelapukan daun-daunan dan ranting-ranting tanaman yang membusuk (mengalami dekomposisi) yang akhirnya mengubah humus menjadi (bunga tanah), dan kemudian menjadi tanah. Bahan baku untuk humus adalah dari daun ataupun ranting pohon yang berjatuhan, limbah pertanian dan peternakan, industri makanan, agroindustri, kulit kayu, serbuk gergaji (abu kayu), kepingan kayu, endapan kotoran, sampah rumah tangga, dan limbah-limbah padat perkotaan. Humus merupakan sumber makanan bagi tanaman, serta berperan baik bagi pembentukan dan menjaga struktur tanah. Senyawa humus juga berperan dalam pengikatan bahan kimia toksik dalam tanah dan air. Selain itu, humus dapat meningkatkan kapasitas kandungan air tanah, membantu dalam menahan pupuk anorganik larut-air, mencegah penggerusan tanah, menaikkan aerasi tanah, dan menaikkan fotokimia dekomposisi pestisida atau senyawa-senyawa organik toksik. Kandungan utama dari kompos adalah humus. Humus merupakan penentu akhir dari kualitas kesuburan tanah, jadi penggunaan humus sama halnya dengan penggunaan kompos.

Membuat Pupuk Organik

Pembuatan Pupuk Organik bersama Wargan Desa Banteyan Kecamatan Klampis Kabupaten Bangkalan
Pembuatan Pupuk Organik
Desa Banteyan adalah salah satu desa di Kecamatan Klampis Kabupaten Bangkalan. Di Desa Banteyan ini mayoritas warganya bekerja sebagai petani. Hampir setiap kepala keluarga setidaknya memiliki 1 lahan pertanian dengan luas lahan yang bervariasi. Dengan latar belakang Desa Banteyan yang mayoritas adalah bekerja sebagai petani sehingga kami mengadakan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik ini.

Dalam Pelatihan ini, masyarakat akan diajak untuk bersama-sama membuat pupuk organik. Tujuan pelatihan ini adalah untuk mengubah pola pikir masyarakat Desa Banteyan yang terbiasa menggunakan Pupuk Kimia atau pupuk anorganik yang tanpa mereka sadari bahwa pupuk kimia tersebut memiliki dampak negatif yang akan sangat besar terhadap hasil panen dan lahan tani mereka. 

Dengan adanya pelatihan ini diharapkan warga mampu merubah pola pikir mereka yang terbiasa menggunakan pupuk kimia atau pupuk anorganik dengan harapan untuk meningkatkan kualitas dan hasil panen para petani di Desa Banteyan serta menjaga lahan tani mereka agar lahan tersebut tetap subur dan mampu meningkatkan penghasilan para petani di Desa Banteyan.

Alat dan Bahan Serta Cara Pembuatan

1) Pupuk Cair dari Pelepah Pisang

  • Alat
    • Pisau
    • Kapak
    • Tong cat 25 Kg dengan tutup
    • Linggis
    • Cangkul
    • Saringan
  • Bahan
    • Batang pohon pisang
    • Bonggol pohon pisang
    • Serabut kulit kelapa
    • Air kelapa
    • Air bersih ± 20 Liter

  • Cara pembuatan
    1. Siapkan batang pohon pisang dan bonggol pohon pisang. Gunakan pisau dan linggis untuk mempermudah mengambil batang pohon pisang dan bonggol pohon pisang tersebut.
    2. Potong kecil-kecil batang pohon pisang dan bonggol pohon pisang menggunakan pisau.
    3. Masukkan potongan batang pohon pisang, bonggol pohon pisang dan serabut kelapa kedalam tong cat.
    4. Masukkan air kelapa kedalam tong cat. Air kelapa yang dibutuhkan air dari 1 buah kelapa.
    5. Tambahkan air bersih kedalam tong cat tersebut sebanyak ± 20 liter.
    6. Tutup rapat-rapat tong cat tersebut dan letakkan ditempat yang teduh. Usahakan agar tong tersebut tidak terkena cahaya matahari secara langsung.
    7. Setelah ± 31 hari atau 1 bulan, bukalah tong cat tersebut dan cium aromanya. Apabila tercium aroma seperti tape maka pupuk tersebut berhasil dan siap digunakan, sedangkan jika tercium aroma selokan atau aroma yang tidak sedap maka pupuk yang buat adalah gagal dan tidak dapat digunakan.
    8. Setelah dipastikan bahwa pupuk cair tersebut telah berhasil dan siap digunakan, ambil air pada pupuk. Gunakan saringan agar kotoran tidak ikut atau tidak tercampur lagi dengan airnya.
    9. Air yang tadi telah disaring siap untuk digunakan.


2) Pupuk Kompos dari Kotoran Sapi

  • Alat
    • Cangkul atau Sekrop
    • Karung
    • Terpal
    • Kayu
    • Ember 2 x 3 meter
  • Bahan
    • 100 Kg kotoran sapi
    • ¼ Kg UREA
    • ¼ SP36
    • EM4
    • Air ± 3 liter

  • Cara Pembutan
    1. Siapkan kotoran sapi kedalam karung. Gunakan caungkul atau sekrop untuk mengambilnya.
    2. Siapkan tempat penampungan pupuknya menggunakan terpal dengan ukuran ½ dari panjang terpal yaitu 1,5 meter. Ikat keempat ujung terpal pada kayu yang tertancap di tanah sehingga membentuk sebuah mangkuk.
    3. Masukkan 100 Kg kotoran sapi kedalam wadah penampungan. Ratakan agar kotoran sapi tersebut tidak menumpuk.
    4. Taburkan UREA dan SP36 pada kotoran sapi tersebut secara merata.
    5. Campurkan EM4 pada 3 liter air dengan ukuran 2 tutup botol. Sirampak pada kotoran sapi tersebut secara merata.
    6. Tutup wadah penampungan tadi dengan ½ sisa panjang terpal tadi, lalu ikat pada kayu penyanggah tadi agar tidak terkena udara dan sinar matahari secara langsung.




Read more
Sabtu, 20 Januari 2018
Memupuk Semangat Berinovasi di Desa Banteyan


Stik Nangka
Ditengah perkembangan jaman yang begitu pesat seperti saat ini kita dituntun agar terus berinovasi. Menciptakan sesuatu yang baru dari sesuatu yang lama agar bisa mengikuti jaman. Berinovasi mencangkup semua aspek kehidupan, entah itu dari segi sosial, pendidikan sampai perekonomian, termasuk berinovasi memanfaatkan hasil alam di sekitar lingkungan kita. Hal tersebut yang menjadi alasan ibu ibu desa Banteyan bekerja sama dengan mahasiswa KKN kelompok 29 Universitas Trunojoyo Madura mengadakan praktik pengolahan hasil bumi yang ada di desa Banteyan.

Karena di desa Banteyan terdapat buah nangka dan rambutan yang cukup banyak, dalam kegiatan tersebut panitia memberikan materi tentang berwirausaha yang dilanjutkan dengan demo pengolahan 2 jenis buah tadi menjadi selai dan stik. Acara tersebut mendapat antusias yang cukup meriah dari masyarakat desa Banteyan, terutama ibu-ibu yang punya keinginan untuk melaksanakan pengolahan tersebut dan dijadikan usaha untuk menambah perekonomian keluarga.

Diharapkan dari kegiatan tersebut memupuk semangat untuk berinovasi masyarakat desa yang sebenarnya mempunyai sumber daya alam melimpah untuk diolah agar mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Read more
Senin, 15 Januari 2018
Pengembangan SDM di Desa Banteyan Melalui Komunitas

Perangkat Desa beserta Mahasiswa KKN 29   Universitas Trunojoyo Madura
Perangkat Desa beserta Mahasiswa KKN 29
Universitas Trunojoyo Madura
Desa yang selama ini dianggap memiliki sumber daya manusia kurang mampu bersaing mulai berbenah sedikit demi sedikit, dengan meakukan pengembangan sumber daya alam di pedesaaan bisa dilakukan dengan banyak cara, seperti diadakanya pelatihan ketrampilan, penyuluhan dan lain sebagainya. Hal tersebut yang mulai dilakukan di Desa Banteyan yang terletak di Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan.

Bertepatan dengan dilaksanakannya KKN tematik semester gasal Universitas Trunojoyo Madura yang kali ini difokuskan daerah Bangkalan salah satunya Desa Banteyan. Aparat desa bersama kelompok KKN 29 UTM mengadakan penyuluhan tentang pentingnya komunitas di dalam desa pada hari senin tanggal 15 januari 2018, yang bertempat di rumah Kepala Desa Banteyan. Penyuluhan tersebut dihadiri perwakilan dari setiap dusun di Desa Banteyan yang berjumlah 5 Dusun, yaitu dusun kandang, dusun gua, dusun kolak, dusun mandala dan dusun dengkolor. Acara yang berlangsung saat sore hari tersebut diharapkan menjadi tonggak awal pengembangan sumber daya manusia di desa Banteyan yang selama ini masih minim.

Diharapkan dari kegiatan tersebut akan merubah sedikit demi sedikit mainset masyarakat desa khususnya Desa Banteyan tentang pentingnya perkumpulan atau komunitas di dalam sebuah desa. Acara tersebut diakhiri dengan diskusi beberapa aparat desa yang menginginkan tindak lanjut dari acara penyuluhan tersebut untuk kemajuan Desa Banteyan.

Read more